2882
Hits

Peranan TMC BPPT Dalam Upaya Mengurangi Resiko Bencana Hidrometereologi

Indonesia dengan geografis mempunyai indeks risiko bencana alam yang tinggi, dengan didominasi jenis bencana hidrometeorologi seperti banjir, kekeringan, tanah longsor, puting beliung, gelombang pasang atau bencana kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan kata Kepala BPPT Hammam Riza saat membuka acara webinar dengan tema Peranan Teknologi Modifikasi Cuaca Dalam Upaya Reduksi Risiko Bencana Hidrometeorologi (15/06).

 

Dengan adanya Paris Agreement terkait upaya pengurangan dampak pemanasan global, membuat negara-negara dunia mulai memikirkan metode yang tepat guna mereduksi emisi carbon di berbagai sektor aktivitas kehidupan.

 

Salah satunya adalah memanfaatkan energi baru terbarukan sebagai sumber pembangkit tenaga listrik, agar suhu bumi tidak mengalami peningkatan secara terus menerus, ujar Hammam. Peranan TMC dalam upaya mitigasi bencana hidrometeorologi di Indonesia telah tertuang sebagai penugasan nasional dalam beberapa regulasi yang berlaku di tanah air.

 

Pertama, untuk mitigasi bencana banjir dan tanah longsor, peranan TMC tertuang sebagai penugasan nasional dalam Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2012 tentang Penanggulangan Bencana Banjir dan Tanah Longsor, dimana Presiden RI memberikan instruksi kepada BPPT guna memberikan bantuan teknologi modifikasi cuaca dalam penanggulangan banjir.

 

Kedua, peranan TMC untuk mitigasi bencana asap kebakaran lahan dan hutan juga telah tertuang sebagai penugasan nasional dalam Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2020 tentang Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan, dimana Presiden RI memberikan instruksi kepada BPPT untuk melakukan operasi teknologi modifikasi cuaca dan pengembangan pembukaan lahan tanpa bakar untuk mendukung upaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan.

 

Untuk itu, BPPT merasa perlu adanya dukungan keterlibatan kalangan akademisi seperti ITB dan IPB guna menjadi mitra dalam upaya mengembangkan metode evaluasi TMC dan mengembangkan model prediksi cuaca, pungkasnya.

 

Sementara Deputi Bidang Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam (TPSA) BPPT, Yudi Anantasena menyampaikan, penguatan upaya reduksi bencana hidrometeorologi serta upaya alternatif TMC sebagai solusi antara lain dengan upaya koordinasi dan penyediaan regulasi di bidang pengendalian perubahan iklim menjadi pondasi bagi implementasi upaya mitigasi bencana iklim juga peningkatan jumlah bencana hidrometeorologi menjadi dasar perlunya peningkatan konsolidasi upaya mitigasi dan penyediaan iptek sebagai solusi.

 

Serta kolaborasi pelaku riset dan inovasi teknologi bersama perguruan tinggi diperlukan untuk menghasilkan inovasi iptek penanggulangan bencana hidrometeorologi, jelasnya. (Humas BPPT)